Sudden Death – Wine’s Fiction

Agustus 15th, 2010

Sudden Death

Aku mendekatinya perlahan, merasakan nafasnya berhembus perlahan, menahan keinginannya untuk menikmati dirinya bersamaku. Nafasku mulai mengejar detak jantungku yang mulai tak sanggup menahan perasaanku. Aku ingin sekali segera ‘menjatuhkan’nya.

“Hey…”

Ia menoleh. Tentu saja ia tidak dapat melihatku. Ia mencoba meraihku tapi, tentu saja tidak bisa. Tangannya terikat dibelakang kursi yang menjadi tempatnya duduk. Aku yakin ia sudah cukup lelah menanti kehadiranku.

“Apa kau tidak ingin bersandar sebentar…? Akan kupinjamkan bahuku…”

Ia bersandar padaku. Tidak lama tapi, aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Sayangnya, aku belum bisa membuka ikatan yang membelenggu tubuhnya. Sepertinya rasa sakitnya menular menusuk tubuhku. Saat pintu itu terbuka, aku tidak akan bisa menyentuhnya seperti ini.

“Wine…” Seseorang masuk ke dalam ruangan itu.

“Hmm…?” Aku segera menjauh darinya. Berat rasanya tapi, itulah yang harus kulakukan.

“Sudah waktunya. Mereka tidak mengirim uangnya.”

“Kau yakin…?”

“Maafkan aku. Aku tau kau-”

“Aku mengerti…”

“BRAKK!!” Seorang pria bertubuh tegap memasuki ruangan. Dialah yang memaksaku malakukan semua ini.

“Oz… Mungkin sebaiknya-”

“Diam! Aku sudah tidak sabar! Aku akan membunuhnya!” Aku terkejut mendengar Oz mengucapkan kata-kata itu.

“Oz… Mereka minta waktu… Ehm… 3 jam saja… 3 jam…”

“Tidak! Itu terlalu lama!”

“Kalau begitu 2-2 jam…”

“Wine… Kau benar-benar tidak mau membunuh orang atau-”

“Sudahlah, Oz… Jangan ganggu dia…”

“Baiklah, Wine… 2 jam…”

“BRAKK!!!!” Oz keluar.

Entah apa yang kupikirkan. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan kehidupannya berakhir di sini.

FLASHBACK

Awalnya, hanya cyber crime hingga akhirnya berkembang ke perampokan kecil. Oz sudah memikirkan semuanya secara matang hingga tak ada jejak sekecil apapun. Selain itu, kami tidak pernah merengut nyawa hanya untuk uang.

Hingga akhirnya, sebuah penculikan. Aku sudah menolaknya namun, Oz benar-benar tidak bisa ditolak. Tugasku yang seharusnya hanya duduk dibalik layar menjadi lebih merepotkan. Aku yang tidak bisa bersosialisasi dengan baik ini harus mendekati seorang siswi SMA.

“Yang benar saja!” Kataku.

Tapi, akhirnya, aku melakukannya juga. Persahabatan palsu diantara kami pun dimulai. Hingga akhirnya, aku mulai mengenalnya lebih dalam. Dia dan semua teman-temannya, jauh lebih baik daripada social networking di dunia maya. Aku semakin tertarik untuk masuk ke dunianya, dunia yang jauh berbeda daripada duniaku. Sampai pada saat tiba waktunya, aku harus mengkhianati kepercayaannya. Oz dan Brian harus membawanya.

PRESENT TIME

Aku jadi merasa bersalah. Oz benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Ia menjadi tamak. Seharunya aku menolak untuk menculik orang. Aku benar-benar tidak bisa mempertaruhkan nyawa manusia apalagi untuk hal seperti ini. Terlalu beresiko.

“Wine…”

“Hmm…?”

“Apa sebaiknya aku pergi saja?”

“Brian… Apa tidak lebih baik jika kita akhiri saja?”

“Eh-ehm… Tidak bisa! Dia sudah lihat wajahmu dan… Dan dia sudah dengar suaraku… Ka-kata O-Oz… Nanti kita tertangkap…”

“Tidak perlu takut seperti itu. Aku nggak akan melakukannya kalau tidak disetujui oleh semuanya. Pergilah…”

Brian pergi. Kini aku berada di ruangan gelap itu berdua, dengannya. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Aku tau ia akan berusaha untuk melarikan diri dari tempat ini, tentu saja. Namun, aku juga harus menjaga agar kondisinya tidak ‘down’.

Aku kembali memperhatikan gerak-geriknya. Caranya menghembuskan nafas membuatku merasa bersalah, selain itu aku benar-benar menyimpan perasaan untuknya. Entah apakah bisa kusampaikan. Tiba-tiba saja aku tergerak untuk berbicara dengannya. Aku melepaskan kain putih yang menutup mulutnya.

“W-Wine…” Katanya pelan.

“Ehhmmm… Maafkan… aku…”

“Aku… Haus…” Sepertinya ia tidak akan mendengarkan perkataanku. Aku segera membawakannya segelas air.

“Ini… Minumlah…” Aku tau, ia benar-benar haus jadi, tidak heran jika ia minum seperti itu.

“Wine…”

“Hmm…?”

“Aku ingin melihat wajahmu.”

“A-aku…”

“Aku takut, Wine.” Aku terdiam mendengar perkataannya tapi, aku takut jika kedua mata kami bertemu kembali, aku tidak akan sanggup melepasnya.

“Wine…?”

“Bukan hanya kamu yang takut… Aku jauh lebih takut…”

“Please…”Aku tidak tahan lagi dengan suaranya yang lembut. Aku segera melepaskan kain yang menutup matanya. Entah mengapa, tanganku bergetar dan basah oleh keringat.

“Wine, kamu tau, kan?”

“Hmm…?” Aku tidak sanggup lagi memalingkan wajahku hingga akhirnya aku menatapnya begitu dalam sampai terasa sakit.

“Aku suka kamu…” Kata-kata itu seperti membunuhku.

“Entahlah…” Aku tidak bisa lagi memalingkan wajahku. Aku benar-benar terpaku. Kami begitu dekat tapi rasanya kata-kata itu tidak bisa kuungkapkan begitu saja.

“Tapi… Kenapa jadi seperti ini…?”

“Aku yakin kamu sudah tau. Sejak awal… memang seperti ini. Dunia kita… berbeda.”

“Kita di bawah langit yang sama… Menginjak bumi yang sama… Menghirup udara yang sama… Memandang matahari yang sama… Apa artinya dunia yang berbeda itu?”

“Aku… tidak bisa-Aku…”

“Wine… Aku mencintaimu, apakah kamu mencintai aku?”

“Entahlah…”

“Jangan lari dari aku… Aku mohon…”

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu… Aku benar- benar…”

Apa yang aku lakukan…? Mengapa aku diam saja…? Mengapa tidak kukatakan, perasaanku yang sebenarnya… Aku benar-benar bodoh…

“Wine… Mungkin aku hanya punya 2 jam lagi untuk bisa bersamamu…”

“Aku tau…” Ya, waktuku tidak lama.

“Seumur hidupmu kamu terus berlari. Kenapa tidak kau hadapi kali ini saja?!”

Aku mendekat, semakin dekat, lebih dekat lagi padanya. Setiap hembusan nafasnya, setiap detak jantungnya, setiap kedipan matanya… Aku bisa merasakan kekhawatiran yang besar bercampur rasa takut. Mengapa ia tidak membenciku, orang yang telah mengkhianati cinta dan kepercayaannya?

Aku membungkuk, menyentuh wajahnya, menatap matanya dalam-dalam, aku tidak ingin melupakan tatapannya itu. Perlahan aku mendekatkan wajahku.

“Maafkan aku…” Kataku lalu menciumnya.

“Ehm, W-Wine… Tidak, jangan berhenti…”

“Aku tidak bisa mengatakannya tapi, aku yakin kau bisa merasakan apa yang aku rasakan…”

Aku tidak bisa menahan diri lagi. Nafasku mengejar setiap hembusan nafasnya dan aku tidak bisa berhenti. Aku menyayanginya. Aku mencintainya dan aku tidak ingin melepaskannya lagi. Tidak lagi!

“Mungkin memang lebih baik jika…” Aku tidak melanjutkan kata-kataku lagi. Aku segera melepaskan ikatan yang membelenggu tangannya.

“Wine…?”

“Biarlah aku menanggung semua kesalahanku… Aku tidak mau menyakitimu lebih dari ini… Pergilah…”

“Bagaimana denganmu…?”

“Mungkin ini adalah pertemuan terakhirku denganmu…”

“Tidak…” Ia terkejut,”Biarkan aku bersamamu lebih lama lagi…”

“Tapi-”

Kali ini, dia yang mengecup bibirku. Perasaanku mulai bercampur aduk. Apakah aku benar-benar sanggup merelakannya?

“Wine, jangan berhenti…”

“Aku tidak akan berhenti… Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu…”

“Emm… Wine… Wine… Jangan terburu-buru… Nikmati saja waktu yang singkat ini…”

“Aku-”

“Mmmm…”

Apa yang ia inginkan dariku? Kenapa ia tidak membenciku? Apa yang berharga dariku? Kau jauh lebih baik dariku dan kau pantas mendapatkan yang lebih baik tapi, kenapa harus aku?

Aku harus menghentikan semua kenikmatan dan kesenangan ini sebelum Oz atau Brian masuk kemari.

“Hey, kau harus segera pergi dari sini. Tidak akan ada kesempatan lain lagi…”

“Tapi, aku tidak ingin kehilangan seorang sepertimu.”

“Jika memang takdir, maka kita akan bertemu kembali…”

“Kau janji?”

“Ya…” Aku telah membuat sebuah janji yang hampir tidak mungkin dapat kupenuhi,”Pergilah, di belakang ada satu pintu yang tidak mereka jaga.”

“I love you…”

“So do I…”

Tak lama setelah ia pergi, aku duduk sendiri, memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku mulai mendengar suara-suara. Sepertinya ada yang datang dan sepertinya, waktuku sudah habis. Oz dan Brian berlari masuk. Mereka seperti orang yang baru saja melihat hantu.

“WINE! POLISI!” Brian berteriak.

“Apa yang kau lakukan!? Duduk santai begitu!” Oz juga mulai berteriak. Apa yang salah denganku?

“Sudahlah…”

“Mana pistolmu?!” Brian bertanya. Pertanyaan yang sangat tidak penting.

“Keluar dan hadapi mereka!” Oz mulai memberiku perintah, untuk yang terakhir kalinya.

Oz keluar dari ruangan itu kemudian terdengar suara tembakan. Sepertinya, ia sudah tiada. Brian yang ketakutan segera berlari menuju pintu belakang. Entah mengapa aku yakin bahwa ia akan tertangkap juga atau mungkin bernasib sama seperti Oz. Aku hanya diam saja. Mungkin aku akan terus duduk di sini sampai…

“BRAK!” Pintu terbuka.

Mereka melemparkan bom asap tapi, aku hanya diam saja. Mereka menyerbu masuk dengan senjata-senjata yang tidak asing lagi bagiku tapi, aku hanya diam saja. Mereka mengepungku dan menodongkan senjata api itu ke arahku. Aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya sakit sekali. Aku mengangkat tangan kananku dan menodongkan senjata pemberian Oz pada diriku sendiri.

Selamat tinggal…”

TAMAT

Kejatuhan Sang Putra Fajar

Juli 1st, 2010

Dalamnya sungai darah

Bercampur hitamnya dosa

Gelapnya matahari bersama ke-12 bintang

Aku menatap hari-hari di sisi bintang

Bintang yang paling bersinar di antara ribuan lainnya

Dia jatuh pada hari itu

Sang Putra Fajar

Melawan Dia Yang Berkuasa

Kejatuhannya membawa bara amarah

Terbakar hingga menghanguskan Laut

Ribuan yang jatuh

Hidup diantara api dendam

Ribuan yang mulia

Hidup dalam terang kemuliaan

Pujian  abadinya tak lagi berarti

Sebab ia telah jatuh

Yang terindah di atas langit

Kini yang terbusuk di liang api

Menanti jiwa-jiwa yang tersesat

Termakan ajaran bintang enam

Merasuki lingkaran itu

Matilah mereka yang hidup dalamnya

Merindukanmu

Juni 26th, 2010

Angin berbisik

Mengingatkanku pada dirimu

Jauh di sana

Lama tak berjumpa, Kasihku

Rasanya, kuingin memelukmu erat

Namun, tak dapat

Engkau jauh di sana

Tak mampu kumenggapai

Aku merindukanmu

Suara merdumu

Sentuhan kasihmu

Bibir manismu

Entah kapan sanggup kumenahan

Rasa rindu menggerogoti jiwa

Kuingin berjumpa

Aku ingin merasakannya lagi

Hangat cintamu

Alam dan Kehidupan

Juni 24th, 2010

Kehidupan jauh di sana

Aku merindukan

Sebatang pohon hijau

Rimbun dengan dedaunan

Benar, alam ini hidup

Sekarang, hidup ini alam

Karat di mana-mana

Meracuni Sang Bumi

Tiada lagi alam bersama nafasnya

Entah sejauh apa

Aku merindukanmu

Selama engkau pergi

Sesak nafasku terasa

Berat kulalui hariku

Di manakah letak dunia hijau itu kini?

JANJI SEPASANG SAHABAT

Juni 24th, 2010

“Kita kubur botol harapan ini disini saja ya?”Kata sahabatku Marcus sambil menunjuk sebuah pohon yang berada ditaman didekat rumah kita. “Baiklah. Tapi janji ya,jangan ada yang kembali kesini sebelum kita lulus SMA. Itu bearti kita baru boleh kesana 4 tahun lagi. Dan kita harus bertemu untuk membukanya tanggal 15 bulan Oktober pada jam empat sore.”kataku mengingatkan sambil tersenyum kecil kepada sahabatku
“Oke…Kau juga harus janji padaku..”jawabnya
*****

Aku bermimpi akan janji itu lagi. Itulah janji yang aku dan dia buat sebelum keberangkatannya menuju keChina. Dia adalah sahabat kecil yang merangkap sebagai cinta pertamaku. Yang masih aku cintai sampai sekarang. Tak terhitung sudah berapa kali aku memimpikannya sejak dia pergi. Mungkin sudah ribuan kali. Sayangnya kita sudah tidak berkomunikasi lagi sejak kepergiannya.
Aku Krystal. Salah satu siswi yang sedang duduk dibangku akhir masa SMA. Aku cukup terkenal disekolahku karena kecantikkanku yang sebenarnya aku tidak merasa bahwa aku cantik.

*****

“Krystal,ayo cepat makan…Nanti terlambat.”teriak ibuku dari bawah sana. Reflek aku pun menjawab “Iya,bu”

*****
“Dor..”suara itu mengangetkanku ditengah lamunanku yang sedang duduk diam didalam kelas sambil menunggu murid yang lain datang. Itu adalah suara sahabatku. Sahabat yang aku dapat sejak kelas 1SMP. Namanya Angela.
“Kau selalu saja mengagetkan aku!”sahutku. “Apakah kau tidak bosan setiap hari bermimpi tentang Marcus yang kau saja tidak tahu apakah dia mengingatmu.”Angela bertanya dengan wajah yang serius.
Ehmm… Benar juga katanya. Apakah dia disana masih mengingat sahabat kecilnya?Atau bahkan sudah lupa kalau dia punya sahabat kecil yang selalu menantinya? Aku harap tidak.
“Krystal??Krystal!!”bentak Angela.. Sontak aku pun menoleh kepadanya yang sedang duduk disebelahku.
“Pas..Pasti dia masih mengingatku. Aku kan sahabat kecilnya.”sahutku. Aku semakin memikirkan kata-kata Angela.
“Ya sudah,sudah bel masuk tuh…”katanya sambil mengeluarkan buku Matematika.

*****

“Huh, sebentar lagi UNAS. Apa kau sudah belajar Krys??”Tanya Angela yang menurutku sebagai sebuah keluhan.
“Sudah donk. Aku kan ingin cepat-cepat lulus untuk bisa membuka botol harapan itu..”jawabku sambil cengar-cengir
“Jadi kau sekolah hanya untuk dapat membuka botol itu??Kenapa kau tidak mau membukanya duluan lalu menguburnya lagi seperti sedia kala?Kan beres tuh”Tanya Angela.
“Tapi itu adalah sebuah janji. Jadi harus ditepati…”jawabku

*****

Akhirnya UNAS pun selesai dan aku pun sudah mendapatkan ijasah. Aku juga mendapatkan nilai yang bagus. Nilai-nila Angela pun tak kalah bagus dariku..
“Pasti kau senang sekali bulan depan kau sudah bisa melihat kembali botol harapanmu..”kata Angela yang mengingatkanku
“Pastinya.. Doakan saja semoga dia juga selalu mengingatnya seperti aku..”sahutku

*****

Hari ini, tepat empat tahun sejak perjanjian itu dibuat.. Aku kembali ketaman ini.
“Taman ini tidak berubah sekali pun.”keluhku bangga

Aku yang datang sekitar jam tiga sore tadi sekarang sedang duduk dibawah pohon yang menyimpan botol kenangan aku dan sahabat kecilku, Marcus.
“Sekarang sudah pukul setengah empat. Akankah dia juga datang menepati janji itu??”tanyaku dalam hati
Ketika sedang bernostalgia tentang kenangan masa kecil, aku pun dikagetkan oleh suara lelaki yang memanggil namaku dari arah belakang aku duduk.

“Krystal??”suaranya terdengar sangat ragu-ragu ketika menyebut namaku.

Seketika aku menoleh kearah belakang…Disana aku menemukan seorang pemuda yang putih, berotot, hidung mancung, memakai kacamata, dengan model rambut berponi kearah kiri.

”Marcus??”tanyaku dengan penuh keraguan…

“Ternyata benar. Tak ku sangka kau masih mengingat janji kita..Kau berubah sekali”katanya lagi.

“Aku juga tak menyangka kau masih mengingatnya. Kau juga sangat berubah.Kau baik-baik saja?”jawab dan tanyaku
“Aku selalu baik dan sehat…Sudah,nanti saja bernostalgianya. Sekarang kita buka saja botol harapan kita. Kau sudah siap?”jawab dan tanyanya sekaligus kepadaku

“Sudah. Ayo kita keruk sekarang.”jawabnku

*****

Kita berdua pun mencari ranting pohon yang jatuh agar dapat digunakan sebagai pengeruk tanah.
Setelah menemukannya, kami pun langsung mengeruknya… Setelah mengeruk kira-kira 5menit, kami pun akhirnya menemukan sebuah botol yang kotor tertimbun tanah yang tadi kami keruk.

Didalam botol itu terdapat selembar kerta berwarna merah dan biru yang terlipat rapi dan tak terlihat using sedikit pun walaupun sudah 4 tahun lamanya

“Oke, kita ambil kertas masing-masing ya. Lalu bergantian membacanya…Nanti kau dulu yang membacanya” kata Marcus sambil menunjukku…

Dengan sigap aku langsung mengambil kertas berwarna merah itu dan perlahan mulai membukanya…

“Untuk Marcus….Aku ingin kita dapat bersahabat selamanya…Bahkan aku ingin selalu bermain sepada denganmu…Aku ingin ketika kau nanti pulang dari China, kau masih mengingatku.. Sebahgai sahabat kecilmu..Aku sedih kamu pergi…Tapi aku percaya kamu pasti bakal inget sama aku. Aku tidak mau berpisah darimu.”

Yah, seperti itulah isi suratku. Surat untuk sahabatku. Aku sangat malu ketika membacanya..

“Sekarang giliranmu”kataku

“Untuk orang yang paling bawel namun aku cintai Krystal. Perlu kamu ketahui sahabatku yang cantik , baik, dan pintar. Aku membuat surat ini dengan sepenuh hati dan tidak berbohong..Entah kenapa ketika aku bersamamu, aku merasa bahagia sekali. Senang sekali jika kau masih mengingatku 4 tahun lagi. Aku akan tetap mengingatmu sekalipun kita berada ribuan kilometer jauhnya..Aku mencintaimu Krystal…” ujarnya

Aku terkaget-kaget ketika mendengar kalimat terakhir…Mencintaiku?? Bearti selama ini kami berdua saling mencintai! Hanya saja tidak ada yang berani mengungkapnya….
“Krystal, maukah kau menjadi pacarku??”tanyanya yang sangat tak ku duga..

“I..Iya, aku mau..”sahutku dengan suara yang samar-samar karena malu

“Terima kasih Krystal..Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi…”janjinya…

*****

Yah, memang panjang penantianku untuk mengetahui dia mencintaiku atau tidak….Tapi kenyataannya dia mencintai aku. Todak sia-sia jikalau selama ini semua lelaki yang suka padaku aku tolak secara halus. Karena aku juga yakin kalau Marcus mencintaiku seperti aku mencintainya..Walaupun kau tidak tahu jawaban pastinya karena kita terpisah jarak yang jauh

Sekarang, aku menjadi percaya dengan pepatah “Kalau jodoh tak akan kemana” yang dulunya todak aku percaya karena sang sahabat yang juga orang yang kucintai pergi…

Terima kasih Tuhan. Kau telah membawa cinta pertama dan sahabatku kembali padaku.

-END-

Seandainya…

Juni 5th, 2010

Jauh di tengah sunyi malam

Aku berjalan

Memutar waktu

Maju dan mundur

Aku ingin bersamamu

Melihatmu begitu indah

Izinkan aku mendekapmu lagi

Izinkan aku mengecup bibirmu lagi

Izinkan aku meredam tangismu untuk selamanya

Berada di sini

Jangan pergi

Seandainya aku ada di sisimu

Aku akan membelaimu

Seandainya aku ada di sana

Aku akan memelukmu

Seandainya aku ada di dekatmu

Aku akan memberikan bahuku untuk kau menangis

Dunia Yang Terluka

Mei 21st, 2010

Besar terasa menyakitkan

Jiwa dan raga berteriak

Mendengar namun tak ada reaksi

Hilang rasa manusiawi

Bunuh ibu mereka

Rengut segala yang bernyawa

Tak tahu dirinya sedang dimangsa

Oleh pembunuh bernama manusia itu

Satu sama lain saling membunuh

Makan memakan bagai hewan

Apalagi yang dicari?

Semua sudah tewas

Tanah berdarah dan langit sekarat

Lautan beracun dan gunung membara

Rusak ibu kamu, ya ibu kamu

Pertama kamu pijak dia

Akhirnya kamu matikan dia

Dengan tangan yang dingin kamu cekik

Kamu rampas hartanya

Apalagi yang bisa dia berikan?

Kamu tidak pernah membalasnya

Kamu hanya menyakiti dan merusak

Sadarlah, Wahai manusia!

Journal – Day 7

Mei 21st, 2010

UKK – DAY 7

Entah mengapa, sudah dua hari ini aku bangun pagi-pagi dan belajar lalu ketiduran hingga pukul 09. 30. Selalu saja mengejar waktu agar tidak terlambat. Aku tidak mau terlambat walaupun tidak masalah jika waktuku terpotong karena aku yakin aku bisa mengejarnya. Yang aku takutkan adalah jumlah poin-ku yang sudah 90. Jika terlambat sekali lagi, aku bisa mendapatkan skorsing 3 hari dan kehilangan nilai yang sangat berharga.

Ekonomi dan English Extensive. Sebenarnya tidak masalah tapi, aku sendiri yang membuat masalah. Karena sudah beberapa hari di-gencet untuk belajar, entah mengapa, aku lelah sekali. Ingin rasanya lepas bebas sebentar saja hingga akhirnya aku tidak serius belajar untuk dua mata pelajaran ini.

Pukul 09. 53 aku berangkat ke sekolah dengan terburu-buru apalagi buku Extensive-ku ketinggalan sehingga aku menyuruh pembantuku untuk mengambilnya.

Pukul 10. 30 ujian Ekonomi dimulai. Aku sangat tidak konsentrasi mengerjakannya karena sebelumnya aku mendapat beberapa masalah pribadi yang tidak layak diperbincangkan di sini. Jadi, aku tidak terlalu bisa mengerjakan uraiannya juga, beberapa soal pilihan ganda. Aku pesimis sajalah. Pukul 11. 24 aku sudah menyelesaikan Ekonomi dan terdiam untuk merenungkan apa yang baru saja kulakukan. Aku benar-benar payah karena sudah membuang kesempatan berharga untuk belajar kemarin malam.

Pukul 11. 34 aku mengerjakan soal ujian English Extensive. Tidak ada kesulitan yang bisa mengancam keselamatan nilaiku, hanya beberapa metamorph dan simile yang membingungkan tapi, abaikan sajalah.

Pukul 12. 17, aku sudah selesai mengerjakan ujian English Extensive. Tidak terasa, tenyata cukup lama juga. Mungkin karena aku terlalu bersemangat menulis complain letter atau entahlah.

Hari ini juga ada yang aneh. Tebak? Selain keluar lebih cepat yaitu pukul 12. 26, ada seorang guru yang aku tidak tau siapa namanya, bertanya tentang kemempuan bermusikku. Instrument yang aku mainkan hingga masa-masa nge-band. Entahlah, apakah itu fans baru atau apa…?

Journal – Day 6

Mei 21st, 2010

UKK DAY 6

20 Mei 2010 merupakan hari yang tidak kalah menegangkan dengan hari sebelumnya. Fisika dan Agama, Ilmu Pengetahuan VS Teologi. Aku sangat suka dengan pertempurannya hingga aku menikmati saat-saat mengerjakannya.

Pukul 10. 25 aku masuk ke dalam kelas. Melihat ke kanan dan ke kiri. Entahlah, aku bingung dengan pemikiranku sendiri. Aku merasa sudah siap tetapi ada keraguan di hatiku. Bukan Fisika yang kupermasalahkan melainkan Agama.

Sehari sebelumnya, aku tidak sungguh – sungguh belajar Agama karena aku sibuk belajar fisika. Selain itu, aku menonton Iron Man 2 hingga pukul 23. 57 dan sampai di rumah pukul 00. 10.

Pukul 10. 58, Aku sudah selesai mengerjakan soal uraian Fisika. Tidak begitu sulit dan aku mampu menyelesaikan semuanya hanya saja ada 1 atau 2 soal yang cukup meragukan. Pukul 11. 37 aku sudah menyelesaikan ujian Fisika sepenuhnya. Lega rasanya. Kini apa yang menanti selanjutnya lebih kutakutkan.

Aku segera mengerjakan Ujian Agama dan tidak kusangka akan sesulit itu. Mungkin salahku karena tidak belajar sungguh-sungguh tapi, untung saja aku masih bisa mengerjakannya hingga pukul 12. 11 aku sudah selesai. Entah mengapa, hari itu aku merasa keluar lebih cepat, pukul 12. 26 sudah diperbolehkan untuk keluar. Ya sudahlah, aku juga tidak ingin lama-lama di sekolah.

Journal – Day 5

Mei 21st, 2010

UKK – Day 5
Rabu, 19 Mei 2010 adalah hari yang paling mendebarkan dalam UAS [Selain 22 Mei 2010 yang dua kali lebih mendebarkan dan menegangkan] UAS Kimia dan Mandarin. Bagiku Mandarin tidak masalah tapi, Kimia, bisa dibilang my worst nightmare.

Pukul 10. 28 aku masuk ke dalam kelas dengan suasana hati dan pikiran hingga jiwa yang kacau. Yohanes dan Sianita tidak ada di kelas, begitu juga Tonny. Kupikir mereka terlambat.

Pukul 10. 35 Ujian Kimia dimulai. Aku mengerjakan semampuku walaupun waktu itu aku benar-benar frustasi tapi aku mengerjakan semuanya.

Pukul 11. 05, Tonny masuk ke dalam kelas. Aku tidak melihat Yohanes dan Sianita. Sepertinya mereka berdua tidak masuk.

Pukul 11. 46 aku sudah selesai mengerjakan soal pilihan ganda kemudian aku melanjutkan ke soal uraian yang benar-benar membunuh semangatku. Aku hanya bisa mengerjakan 2 atau 3 soal. Pukul 11. 57 aku sudah menutup lembar jawaban Kimia. Selesai dan pasrah. Aku yakin aku terlihat seperti orang depresi.

Soal dan lembar jawaban tersebut segera kuletakkan di samping meja kemudian aku melanjutkan dengan mengerjakan soal ujian Mandarin yang ternyata sangat mudah hingga pukul 12. 20 aku sudah selesai mengerjakan semua soal-soalnya baik pilihan ganda maupun uraian yang lebih pantas disebut dengan memilihi jawaban, benar-salah dan menyusun kata menjadi kalimat yang benar. Aku tidak percaya dengan soal-soal tersebut. Dulunya aku sempat kesulitan dengan Ujian Mandarin [Saat masih SMP] tapi kali ini, aku benar-benar menyelesaikannya dengan penuh percaya diri dan hanya kesulitan dengan pinyin.

Tes hari ini bisa dibilang 180 derajat berbeda dalam hal kesulitan. Benar-benar drastis dan tragis.