Sudden Death – Wine’s Fiction
Agustus 15th, 2010Sudden Death
Aku mendekatinya perlahan, merasakan nafasnya berhembus perlahan, menahan keinginannya untuk menikmati dirinya bersamaku. Nafasku mulai mengejar detak jantungku yang mulai tak sanggup menahan perasaanku. Aku ingin sekali segera ‘menjatuhkan’nya.
“Hey…”
Ia menoleh. Tentu saja ia tidak dapat melihatku. Ia mencoba meraihku tapi, tentu saja tidak bisa. Tangannya terikat dibelakang kursi yang menjadi tempatnya duduk. Aku yakin ia sudah cukup lelah menanti kehadiranku.
“Apa kau tidak ingin bersandar sebentar…? Akan kupinjamkan bahuku…”
Ia bersandar padaku. Tidak lama tapi, aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Sayangnya, aku belum bisa membuka ikatan yang membelenggu tubuhnya. Sepertinya rasa sakitnya menular menusuk tubuhku. Saat pintu itu terbuka, aku tidak akan bisa menyentuhnya seperti ini.
“Wine…” Seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
“Hmm…?” Aku segera menjauh darinya. Berat rasanya tapi, itulah yang harus kulakukan.
“Sudah waktunya. Mereka tidak mengirim uangnya.”
“Kau yakin…?”
“Maafkan aku. Aku tau kau-”
“Aku mengerti…”
“BRAKK!!” Seorang pria bertubuh tegap memasuki ruangan. Dialah yang memaksaku malakukan semua ini.
“Oz… Mungkin sebaiknya-”
“Diam! Aku sudah tidak sabar! Aku akan membunuhnya!” Aku terkejut mendengar Oz mengucapkan kata-kata itu.
“Oz… Mereka minta waktu… Ehm… 3 jam saja… 3 jam…”
“Tidak! Itu terlalu lama!”
“Kalau begitu 2-2 jam…”
“Wine… Kau benar-benar tidak mau membunuh orang atau-”
“Sudahlah, Oz… Jangan ganggu dia…”
“Baiklah, Wine… 2 jam…”
“BRAKK!!!!” Oz keluar.
Entah apa yang kupikirkan. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan kehidupannya berakhir di sini.
FLASHBACK
Awalnya, hanya cyber crime hingga akhirnya berkembang ke perampokan kecil. Oz sudah memikirkan semuanya secara matang hingga tak ada jejak sekecil apapun. Selain itu, kami tidak pernah merengut nyawa hanya untuk uang.
Hingga akhirnya, sebuah penculikan. Aku sudah menolaknya namun, Oz benar-benar tidak bisa ditolak. Tugasku yang seharusnya hanya duduk dibalik layar menjadi lebih merepotkan. Aku yang tidak bisa bersosialisasi dengan baik ini harus mendekati seorang siswi SMA.
“Yang benar saja!” Kataku.
Tapi, akhirnya, aku melakukannya juga. Persahabatan palsu diantara kami pun dimulai. Hingga akhirnya, aku mulai mengenalnya lebih dalam. Dia dan semua teman-temannya, jauh lebih baik daripada social networking di dunia maya. Aku semakin tertarik untuk masuk ke dunianya, dunia yang jauh berbeda daripada duniaku. Sampai pada saat tiba waktunya, aku harus mengkhianati kepercayaannya. Oz dan Brian harus membawanya.
PRESENT TIME
Aku jadi merasa bersalah. Oz benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Ia menjadi tamak. Seharunya aku menolak untuk menculik orang. Aku benar-benar tidak bisa mempertaruhkan nyawa manusia apalagi untuk hal seperti ini. Terlalu beresiko.
“Wine…”
“Hmm…?”
“Apa sebaiknya aku pergi saja?”
“Brian… Apa tidak lebih baik jika kita akhiri saja?”
“Eh-ehm… Tidak bisa! Dia sudah lihat wajahmu dan… Dan dia sudah dengar suaraku… Ka-kata O-Oz… Nanti kita tertangkap…”
“Tidak perlu takut seperti itu. Aku nggak akan melakukannya kalau tidak disetujui oleh semuanya. Pergilah…”
Brian pergi. Kini aku berada di ruangan gelap itu berdua, dengannya. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Aku tau ia akan berusaha untuk melarikan diri dari tempat ini, tentu saja. Namun, aku juga harus menjaga agar kondisinya tidak ‘down’.
Aku kembali memperhatikan gerak-geriknya. Caranya menghembuskan nafas membuatku merasa bersalah, selain itu aku benar-benar menyimpan perasaan untuknya. Entah apakah bisa kusampaikan. Tiba-tiba saja aku tergerak untuk berbicara dengannya. Aku melepaskan kain putih yang menutup mulutnya.
“W-Wine…” Katanya pelan.
“Ehhmmm… Maafkan… aku…”
“Aku… Haus…” Sepertinya ia tidak akan mendengarkan perkataanku. Aku segera membawakannya segelas air.
“Ini… Minumlah…” Aku tau, ia benar-benar haus jadi, tidak heran jika ia minum seperti itu.
“Wine…”
“Hmm…?”
“Aku ingin melihat wajahmu.”
“A-aku…”
“Aku takut, Wine.” Aku terdiam mendengar perkataannya tapi, aku takut jika kedua mata kami bertemu kembali, aku tidak akan sanggup melepasnya.
“Wine…?”
“Bukan hanya kamu yang takut… Aku jauh lebih takut…”
“Please…”Aku tidak tahan lagi dengan suaranya yang lembut. Aku segera melepaskan kain yang menutup matanya. Entah mengapa, tanganku bergetar dan basah oleh keringat.
“Wine, kamu tau, kan?”
“Hmm…?” Aku tidak sanggup lagi memalingkan wajahku hingga akhirnya aku menatapnya begitu dalam sampai terasa sakit.
“Aku suka kamu…” Kata-kata itu seperti membunuhku.
“Entahlah…” Aku tidak bisa lagi memalingkan wajahku. Aku benar-benar terpaku. Kami begitu dekat tapi rasanya kata-kata itu tidak bisa kuungkapkan begitu saja.
“Tapi… Kenapa jadi seperti ini…?”
“Aku yakin kamu sudah tau. Sejak awal… memang seperti ini. Dunia kita… berbeda.”
“Kita di bawah langit yang sama… Menginjak bumi yang sama… Menghirup udara yang sama… Memandang matahari yang sama… Apa artinya dunia yang berbeda itu?”
“Aku… tidak bisa-Aku…”
“Wine… Aku mencintaimu, apakah kamu mencintai aku?”
“Entahlah…”
“Jangan lari dari aku… Aku mohon…”
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu… Aku benar- benar…”
Apa yang aku lakukan…? Mengapa aku diam saja…? Mengapa tidak kukatakan, perasaanku yang sebenarnya… Aku benar-benar bodoh…
“Wine… Mungkin aku hanya punya 2 jam lagi untuk bisa bersamamu…”
“Aku tau…” Ya, waktuku tidak lama.
“Seumur hidupmu kamu terus berlari. Kenapa tidak kau hadapi kali ini saja?!”
Aku mendekat, semakin dekat, lebih dekat lagi padanya. Setiap hembusan nafasnya, setiap detak jantungnya, setiap kedipan matanya… Aku bisa merasakan kekhawatiran yang besar bercampur rasa takut. Mengapa ia tidak membenciku, orang yang telah mengkhianati cinta dan kepercayaannya?
Aku membungkuk, menyentuh wajahnya, menatap matanya dalam-dalam, aku tidak ingin melupakan tatapannya itu. Perlahan aku mendekatkan wajahku.
“Maafkan aku…” Kataku lalu menciumnya.
“Ehm, W-Wine… Tidak, jangan berhenti…”
“Aku tidak bisa mengatakannya tapi, aku yakin kau bisa merasakan apa yang aku rasakan…”
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Nafasku mengejar setiap hembusan nafasnya dan aku tidak bisa berhenti. Aku menyayanginya. Aku mencintainya dan aku tidak ingin melepaskannya lagi. Tidak lagi!
“Mungkin memang lebih baik jika…” Aku tidak melanjutkan kata-kataku lagi. Aku segera melepaskan ikatan yang membelenggu tangannya.
“Wine…?”
“Biarlah aku menanggung semua kesalahanku… Aku tidak mau menyakitimu lebih dari ini… Pergilah…”
“Bagaimana denganmu…?”
“Mungkin ini adalah pertemuan terakhirku denganmu…”
“Tidak…” Ia terkejut,”Biarkan aku bersamamu lebih lama lagi…”
“Tapi-”
Kali ini, dia yang mengecup bibirku. Perasaanku mulai bercampur aduk. Apakah aku benar-benar sanggup merelakannya?
“Wine, jangan berhenti…”
“Aku tidak akan berhenti… Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu…”
“Emm… Wine… Wine… Jangan terburu-buru… Nikmati saja waktu yang singkat ini…”
“Aku-”
“Mmmm…”
Apa yang ia inginkan dariku? Kenapa ia tidak membenciku? Apa yang berharga dariku? Kau jauh lebih baik dariku dan kau pantas mendapatkan yang lebih baik tapi, kenapa harus aku?
Aku harus menghentikan semua kenikmatan dan kesenangan ini sebelum Oz atau Brian masuk kemari.
“Hey, kau harus segera pergi dari sini. Tidak akan ada kesempatan lain lagi…”
“Tapi, aku tidak ingin kehilangan seorang sepertimu.”
“Jika memang takdir, maka kita akan bertemu kembali…”
“Kau janji?”
“Ya…” Aku telah membuat sebuah janji yang hampir tidak mungkin dapat kupenuhi,”Pergilah, di belakang ada satu pintu yang tidak mereka jaga.”
“I love you…”
“So do I…”
Tak lama setelah ia pergi, aku duduk sendiri, memikirkan apa yang harus aku lakukan. Aku mulai mendengar suara-suara. Sepertinya ada yang datang dan sepertinya, waktuku sudah habis. Oz dan Brian berlari masuk. Mereka seperti orang yang baru saja melihat hantu.
“WINE! POLISI!” Brian berteriak.
“Apa yang kau lakukan!? Duduk santai begitu!” Oz juga mulai berteriak. Apa yang salah denganku?
“Sudahlah…”
“Mana pistolmu?!” Brian bertanya. Pertanyaan yang sangat tidak penting.
“Keluar dan hadapi mereka!” Oz mulai memberiku perintah, untuk yang terakhir kalinya.
Oz keluar dari ruangan itu kemudian terdengar suara tembakan. Sepertinya, ia sudah tiada. Brian yang ketakutan segera berlari menuju pintu belakang. Entah mengapa aku yakin bahwa ia akan tertangkap juga atau mungkin bernasib sama seperti Oz. Aku hanya diam saja. Mungkin aku akan terus duduk di sini sampai…
“BRAK!” Pintu terbuka.
Mereka melemparkan bom asap tapi, aku hanya diam saja. Mereka menyerbu masuk dengan senjata-senjata yang tidak asing lagi bagiku tapi, aku hanya diam saja. Mereka mengepungku dan menodongkan senjata api itu ke arahku. Aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya sakit sekali. Aku mengangkat tangan kananku dan menodongkan senjata pemberian Oz pada diriku sendiri.
“Selamat tinggal…”
TAMAT